Air Nira Tuak
Artikel

Tuak Sangat Erat dengan Budaya

Air Nira atau yang kita kenal sebagai tuak biasa dijadikan sebagai minuman tradisional, dan para pengrajin tuak di daerah Toba misalnya, mereka memiliki trik sendiri untuk menghasilkannya. Para pengrajin tersebut disebut sebagai paragat, karena mereka melakukan pekerjaan tersebut dengan menggunakan agat untuk mengiris batang mayang.

Pertama buah enau perlu dipilih dulu yang mana bisa menghasilkan tuak, setelah itu paragat membersihkan pangkal batang buah enau pilihan dan memukulnya dengan balbal-balbal (tongkat kayu khusus maragat).

Menurut tetua setempat di daerah tertentu, proses maragat dulunya memerlukan seni dan ritual khusus. Menurut kisah dulu, pohon enau adalah jelmaan seorang dara yang bunuh diri dengan terjun ke halaman rumah karena tidak ingin dijodohkan dengan lelaki cacat. Dari cerita tersebutlah muncul kewajiban kalau paragat yang melakukan pekerjaannya perlu pandai bernyanyi sambil memukul buah enau. Agar pohon enau meneteskan airnya, maka para pengrajin harus merayu dengan nyanyian suara merdu mereka serta ketukan.

Setelah melewati tahap tersebut, selanjutnya memahat tangkai enau sampai air nira menetes. Air tersebut ditampung dengan menggunakan batang bambu atau cerigen, biasanya proses ini dilakukan pagi dan sore hari.

Untuk mengakali agar air nira tidak tercampur dengan air hujan, biasanya para paragat memberikan pelindung diatasnya. Sebenarnya air nira memiliki rasa yang manis, di daerah Toba hal tersebut dikenal dengan nama tuak tonggi yang aritnya manis. Ada juga tuak takkasan yang merupakan tuak hasil dari bunga mayang yang pertama kali disadap, itu sama seperti air susu yang diminum oleh anak kandung langsung dari ibunya. Tuak yang berasal dari lapo-lapo cenderung terasa pahit, karena diramu dengan raru (kulit kayu) untuk proses fermentasi penanakan tuak (suling).

Tuak Memiliki Manfaat yang Baik untuk Tubuh

Kebanyakan paragat di Toba adalah pria, karena mengambil air nira di pohon enau ini terbilang sulit, Pernah ada kejadian perajin yang jatuh dari pohon tersebut, ada yang meninggal dan ada juga yang sampai cacat. Sebab itulah di Toba tidak pernah ada paragat perempuan.

Sebagian besar masyarakat Toba menganggap kalau tuak kadung adalah minuman haram, memabukkan dan tidak ada faedahnya.

Ada juga yang mengatakan kalau tuak memiliki segi baik untuk kesehatan dan menyegarkan jika diminum tidak melebih takaran yang sudah ditentukan. Khusunya unruk para ibu yang minum tuak tonggi, itu bisa memperlancar ASI. Bagi para petani yang lelah bekerja seharian minuman ini memiliki khasiat yang menyegarkan jika diminum sesuai takarannya.

Di sisi lain juga tuak disebut sebagai minuman yang merusak tatanan masyarakat, hal tersebut meluas kemana-mana sebagai penyebab banyak masyarakan Toba terutama para pria menjadi mabuk-mabukkan, dan juga menjadi kebiasaan meminum tuak sampai mabuk sampai membuat rumah tangga sering kali terjadi percekcokan.

Hal tersebut terus melekat di dalam masyarakat, walau sudah di buktikan oleh banyak penelitian kalau tuak memiliki manfaat untuk kesehatan kalau diminum secukupnya dan tidak berlebihan.

error: