Seperti Apa Pembuatan Arak Bali
Artikel

Seperti Apa Pembuatan Arak Bali?

Arak bali sekilas terlihat sama semuanya, hanya saja label dan kemasannya saja yang berbeda. Tetapi kalau kita lihat dengan baik, ada perbedaan lain terdapat didalamnya, yang salah satunya adalah bahan baku.

Menurut narasumber yang berasal dari Perbekel Desa Tri Eka Buana, I Ketut Derka, mengatakan kalau setiap arak bali memiliki perbedaan masing-masing yant terletak pada pemilihan bahan dasarnya sebelum dilakukan proses pengolahan menjadi arak.

“Arak bali memang tidak ada jenisnya, namun dari tiap arak ada perbedaan bahan dasar, yaitu pada pemilihan pohon yang digunakan sebagai bahan bakunya, ” kata narasumber.

“Ada juga beberapa wilayah yang membuat arak bali dengan tidak memakai pohon kelapa, melainkan memakai pohon enau (aren) ” sambungnya.

Seperti yang dikatakan oleh narasumber, pulau Bali mempunya sejumlah tempat yang memang terkenal dengan pembuatan araknya, dan rasanya pun sangat nikmat. Tempat tersebut seperti Desa Tri Eka Buana, Desa Bebandem, dan Desa Abang di Kabupaten Karangasem. Kemudian di daerah Kabupaten Buleleng. Yang mana setiap daerah mempunyai pilihan pohon yang berbeda-beda, Malah ada juga yang menyadap nira dari pohon ental (lontar).

Menurut narasumber, jenis arak Bali yang paling banyak disukai oleh masyarakan dan wisatawan adalah arak yang berasal dari nira pohon kelapa.

Arak Buleleng dan Karangasem

Arak yang berasal dari Desa Les Kabupaten Buleleng memilih untuk membuat arak dengan bahan baku pohon lontar, walau disana ada pohon lain seperti kelapa dan aren. Mereka beralasan memilih pohon lontar karena proses pengambilan nira bisa dipanen dalam waktu 1x 24 jam, ditambah dengan fermentasi nira di pohon yang lebih lama dan menghasilkan alkohol alami.

Chef Gede Yudiawan mengatakan kalau media penyadap yang dipakai adalah serabut kelapa, dengan waktu fermentasi yang cukup lama membuat wayah sudah matang dan mengandung kadar alkohol didalamnya.

Usai proses fermentasi, ada juga proses fermentasi yang memakan waktu selama 6 sampai 12 jam.

Nira yang sudah diambil akan dimasukkan kedalam panci besar dan siap dibungkung sampai 20 botol arak kecil, setiap botol memiliki ukuran untuk menampung nira sebanyak 600 ml.

Panci tersebut akan ditutup dan diberikan lubang sebesar bambu penyuling, yang kemudian pinggirannya ditutup dengan lem yang terbuat dari buah lontar, lem tersebut berfungsi untuk mengeluarkan uap rebusan agar tidak tersebar.

Proses penyulingan akan mempengaruhi kualitas serta rasa dari arak, sebab itulah proses penyulingan dilakukan dengan menggunakan bambu, bukan dengan pipa pelastik. Dengan menggunakan bambu tentu kualitas dan rasa dari arak akan semakin halus dan enak, sedangkan menggunakan pipa plastik akan membuatnya menghasilkan rasa plastik. Tidak lupa bambu yang digunakan untuk proses penyulingan minimal memiliki panjang 8 meter.

Chef yudiawan mengatakan kalau di Desa Les, proses penyulingan dilakukan dengan menggunakan bambu panjang dan dipanaskan dengan membakar kayu, bukan memakai kompor.

Sedangkan di Desa Tri Eka Buana yang membuat arak Bali dengan bahan pohon kelapa, hampir menjalani proses yang tidak beda jauh dengan cara yang dilakukan Desa Les. Tetapi para petani biasanya menyadap nira dari pohon kelapa sebanyak dua kali pada satu pohon.

Setelah mengumpulkan sebanyak 80 – 90 liter barulah mereka kembali. Selanjutnya mereka memberikan serabut kelapa yang dimasukkan kedalam tuak untuk melakukan proses fermentasi yang akan memakan waktu selama 2 sampai 3 hari lamanya.

Tidak hanya menggunakan serabut kelapa sebagai proses fermentasinya, terkadang para petani arak pun menggunakan kayu bayur atau kutat.

Sebelum memasukkannya ke dalam nira, ada proses lain yang harus dilakukan setelah melakukan fermentasi tersebut. Yang mana dari serabut kelapa, kulit kayu bayur atau kutat perlu melewati proses pengeringan terlebih dahulu, pengeringan tersebut memerlukan waktu 14 sampai 20 hari.

Bahan tersebut kemudian dihaluskan dengan cara dipukul dengan kayu diatas batu. Kemudian barulah dicampur untuk fermentasi.

Setelah itu rasa nira akan berubah sedikit keras karena porses fermentasi yang membuat kadar alkoholnya semakin tinggi. Penyulingan dilakukan selama 12 jam dan apinya tidak boleh terlalu besar, apinya boleh besar hanya untuk air tuak yang awalnya dingin.

Setelah mendidih, baut api dari kayu mengecil dan rasa dari arak yang dihasilkan akan semakin bagus. Cara ini sama yang dilakukan oleh Desa Tri Eka Buana, yang mana masih menggunakan cara tradisional.

error: