Sake
Artikel

Sejarah Sake, Minuman Yang Sering Diminum Samurai

Masing-masing negara memiliki minuman khas mereka sendiri, khususnya minuman yang mengandung alkohol. Di Indonesia ada arak atau tuak, negara barat ada anggur atau wine, sementara yang melegenda ada di Jepang yaitu sake.

Mengapa minuman ini sejarahnya sangat melegenda dan mengapa minuman beralkohol ini sangat digemari oleh para samurai, berikut ulasannya.

Sejarah Minuman Sake

Awal mula sake dapat kita lihat dari sejak masuknya beras ke negara Jepang, sekitar 4.800 SM. Selama ribuan tahun terasa disayangkan, karena pengembangan minuman beralkohol ini hanya berlangsung di Jepang.

Periode Yayoi – Nara (400 SM – 794)

Pada saat ini sake baru ditemukan dan diolah dengan cara tradisional, yaitu dengan cara dikunyah dan disimpan dalam kendi atau wadah besar. Nasi lembek mengandung enzim dan bisa membuat nasi mengalami fermentasi, yang kemudian akan menghasilkan Kuchikami-no-sake.

Cara ini terus berlangsung sampai era Nara (710-784), kemudian prosesnya berkembang dengan bantuan dari koji yang merupakan jenis jamur atau ragi yang dibeli dari tiongkok. Mulai saat itulah minuman beralkohol ini sudah mulai berkembang dengan pesat.

Periode Sengoku (1467-1603)

Memasuki perkembangan sake paling pesat di periode Sengoku. Sake dibuat oleh para biksu saja, yang mana dibuat untuk persembahan dewa Shinto, tetapi di abad ke 16 sake mulai dibuat untuk masyarakat.

Produksi sake semakin melebar, sampai setiap daerah ada sake yang memiliki rasa yang bermacam-macam. Besar, air dan juga ragi menjadi penentu rasa dari sake yang dibuat. Proses pengulitan beras dilakukan berkali-kali agar mendapatkan kemurnian beras yang tinggi.

Periode Edo (1603 – 1868)

Sake semakin berkembang lebih baik di periode Edo, biasanya sake disajikan dalam bentuk nigori sake atau masih berbentuk partikel nasi, ketika masuk era Edo sudah tidak lagi dan rasanya tidak terlalu manis.

Saat itulah mulai dilakukan proses penyaringan di pabrikan, hal ini dilakukan dengan abu. Lewat proses ini dihasilkanlah sake yang jernih dan tidak terlalu manis, sake ini diberi nama sake atau seishu. Pada era modern penyaringan ini dikenal dengan nama penyaringan karbon.

Periode Meiji (1868 – 1912)

Memasuki era kebarat-baratan atau era Meiji, banyak beberapa hal yang diambil dari amerika dan sekitarnya. Walau demikian, saat itulah sake dikenal dunia internasional, tepatnya dalam acara Vienna International Exposition tahun 1873.

Pada waktu itu mulailah dikenal sake Jepang atau Nihonshu. Saat itulah sake mulai diekspor ke seluruh dunia termasuk kawasan Asia Tenggara dan Amerika. Produsen minuman beralkohol ini semakin berkembang di Jepang pada era Meiji, ada kurang lebih 27.000 pabrik pembuatan sake.

Periode Showa (1926 -1989)

Pajak mulai berlaku pada era Showa, pajak akan semakin besar bergantung dengan tingkat kemurnian sake tersebut. Hal ini membuat banyak produsen sake memberikan campuran air pada sake mereka. Peraturan tersebut akhirnya berhenti usai pajak mulai dihitung dari banyaknya volume sake yang diproduksi.

Hal yang menyangkut sake terus berlanjut ketika pihak pemerintah memberikan penilaian atas sake yang diproduksi. Sake dengan tingkat premium akan diberlakukan pajak yang lebih besar, kebanyakan pabrik kecil tidak mampu membayar pajak walau sake produksi mereka dikategorikan premium. Hal tersebut membuat sake dijual dengan harga murah, agar pembayaran pajak tidak terlalu besar.

Banyak pabrik sake yang tutup pada perang dunia ke ll karena hancur serta keadaan beras yang sudah tidak ada lagi stoknya. Hanya sisa 3.000 beras yang digunakan untuk mencampur alkohol sulingan, yang mana di dapat dengan harga yang murah. Mulai dari saat itu sake berkualitas rendah dengan kadar alkohol tinggi mulai diproduksi.

Periode Heisei (1989- sekarang)

Sake mulai berkembang dengan aroma dan rasa yang beragam di periode modern sampai sekarang ini. Hal ini dilakukan agar tidak hanya kaum lelaki saja yang menikmati sake, tapi juga kaum wanita. Yang mana kebanyakan penikmat sake adalah kaum lelaki.

Periode ini bahan baku terutama beras menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan kualitas sake. Sake unggulan dihasilkan dari beras yang dilakukan proses penggilingan berkali-kali, sampai di dapat lapisan luar yang terbaik. Pada periode ini pun pemeritah Jepang berusaha agar sake diproduksi dalam negeri.

error: