Pemilihan Pohon dan Penyajian Arak Bali
Artikel

Pemilihan Pohon dan Penyajian Arak Bali

Arak bali sekilas terlihat sama semuanya, hanya saja label dan kemasannya saja yang berbeda. Tetapi kalau kita lihat dengan baik, ada perbedaan lain terdapat didalamnya, yang salah satunya adalah bahan baku.

Setelah mengetahui cara membuat arak Bali seperti apa, mulai dari proses pengambilan, penyulingan, sampai pemanasannya menjadi arak. Kalian perlu mengetahui seperti apa pohon yang akan dipilih untuk membuat nira dan setelah itu kalian perlu mengetahui seperti apa penyajian arak Bali.

Pemilihan Pohon dengan Ciri Tertentu

Chef Yudiawan mengatakan untuk mengambil cairan pohon lontar, pilihlah pohon yang hidup di daerah tandus, karena kadar air pada pohon tersebut lebih rendah dan mambuat proses fermentasi lebih mudah.

Tidak hanya itu, pohon lontar dengan ketinggian 15 sampai 20 meter menjadi pilihan terbaik dari para petani nira. Karena pohon tersebut memiliki kuantitas yang besar dan kualitasnya terjamin, tetapi di balik itu semua perjuangan untuk mendapatkannya juga cukup berat.

Sedangkan menurut Derka, pohon kelapa dengan hasil nira terbaik adalah pohon dengan daun yang elastis, bagian bunga pohon kelapa juga sedang (tidak besar, tidak kecil). Ia mengatakan baha ukuran tinggi pohon tidak mempengaruhi rasa tuak yang dihasilkan.

Penyajian Arak Bali

Minuman yang dihasilkan dari nira kedua pohon tersebut biasanya disajikan dalam bentuk satu sloki kecil. Minuman ini biasa dikonsumsi oleh para petani di pagi hari sebelum mereka menjalani kegiatan ke sawah. Pilihan lain mengkonsumsinya adalah di malam hari agar menghangatkan tubuh serta menyegarkannya.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Karangasem, I Ketut Sedana Merta, mengatakan bahwa biasanya minuman ini dikonsumsi setelah orang makan makanan besar seperti daging.

Melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 1 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi Dan / Atau Destilasi Khas Bali, Minuman arak Bali sudah dilegalkan. aturan tersebut telah dikeluarkan oleh Gubernur Bali I Wayan Koster pada Kamis (6/2/2020). Dimana peraturan tersebut sudah disetujui oleh Kementerian Dalam Negeri tersebut.

Gubernur Bali mengharapkan agar minuman khas Bali ini dan sejenisnya bisa dijadikan kekuatan ekonomo baru untuk rakyat serta menjadi kearifan lokal.

error: